MASIH INGATKAH
enkau denganku...?
Aku dan Amel bersahabat sejak masih TK. Aku dengan dia selalu sehati. He he… kasian banget ya kita berdua hanya punya satu hati. Ya, aku dengan Amel selalu berpendapat sama. Meskipun keekonomian aku dan Amel bagai langit dan bumi. Amel anak pengusaha batik sedangkan aku anak seorang penjahit. Aku dengan Amel selalu berdua dari makan, tidur, main, berangkat sekolah, berangkat mengaji mandipun berdua maklum dulu masih anak TK. Itu semua karena Amel kurang dapet perhatian dari orang tuanya. Ya…bokapnya konsen ngurus perusahaan jahitan n nyokapnya ngurus usaha batik barunya. He he…. Sok gaul banget aku.
Hari berganti hari, bulan berganti nama, dan tahun berganti angka. Aku dan Amel sudah duduk di kelas VIII SMP. Karena dari kecil kita sering berdua dan berpendapat sama, cowok yang kami sukapun sama, dia Arif. Dia tinggi, putih, hidungnya mancung, maklum anak basket, banyak yang ngefans.
Matahari memancarkan sinarnya penuh percaya diri, debu beterbangan, perutkupun sudah keroncongan buktinya cacing di perutku sudah pada misscall he he…mengurangi konsentrasiku belajar. “tet…tet…tet…”. Bel istirahatpun berdenteng. Aku dan Amelpun segera meluncur ke kantin.
* di tengah perjalanan*
“Hai Sya,Mel darimana?”Arif nyapa kami sambil membawa bula basketnya.” kita mau kekantin mau ikut? ayuk!” ajak ku ya menurutku ini kesempatan buat buat deket sama dia.
Aku, Amel dan Arif makin lama makin deket. Tapi,ternyata Amel jadian sama Arif. Huch, aku sempet kesel, ya tapi biarlah, asal sahabatku itu senang apalagi aku masih umur 13 th, masih bau kencur. Dan Arif lebih cocok sama Amel mereka sama-sama anak orang kaya.
* satu bulan kemudian *
Sejuknya pagi ini, sunrise membangunkanku dari tidur lelapku dan untuk segera merapikan tempat tidurku apalagi ini hari libur muncul semangatku.“ Sya ibunya Amel meninggal.” Ungkap ibuku mengagetkanku. ”Innalillahi wainnailaihi rojiun, bener bu?” Tanya balikku dengan mata berkaca-kaca. “ya,meninggal tadi petang.” jawab ibuku sambil memeluku.
Pukul 08.00 aku dan ibundaku melayat kerumah Amel. Tiba disana Amel bergegas memelukku. Aku ikut merasakan apa yang dirasakan dia dan keluarganya. Amel tak henti mengeluarkan air matanya. Aku berharap semoga ini bukan pelukan terakhir dari Amel . Ya… aku dengar Amel akan ke luar kota ikut neneknya.
Hari berganti hari aku berangkat sekolahpun terus sendiri dan apapun sendiri. Ternyata benar, sudah 1 tahun ini Amel di luar kota. Awalnya sich dia kesana untuk menghilangkan rasa kehilangan ditinggal ibunya saja, tapi mungkin dia betah disana. Ya dia putus sekolah, putus mengaji dan putus komunikasi denganku. Yach lama waktu Amel disana aku jarang mikirin dia. Ya benerlah biar konsen untuk menghadapi UN nanti. Saat hari penentuan Alhandulillah aku “LULUS”. Tapi aku mau ngelanjutin dimana ya? Apa ortuku mampu melanjutkan sekolahku?
Saat holiday kelulusan tepatnya pagi hari Amel pulang kedesa. Saat telingaku dengar kabar itu, aku bergegas kerumahnya. Tapi… ditengah perjalanan. ”Hai Sya…” Hai memanggilku. ”Hai Mel,gimana kabarmu Mel? kapan kamu pulang? akhirnya kita ketemu lagi.” Tanya-tanyaku dengan nada kangen. ‘Aku baik seperti yang kamu lihat, aku pulang tadi pagi, pukul 04.00, Eh Sya aku duluan ya aku mau ketoko.” jawab Amel sambil mengegas motornya. Dari jawaban Amel tadi aku berfikir kalau Amel 50% mulai berubah. Amel mulai cuek kaya nggak kangen aku sama sekali. Ya… biar saja kalau bukanya cuek tapi lagi terburu-buru disuruh neneknya or bapaknya. Ya aku nggak boleh su ‘udzan.
Aku sudah kelas X SMA. Ya alhamdulillah ortuku dibantu kakakku, akhirnya bisa memasukkan aku di SMA yang aku inginkan.
Sejak Amel jarang ketemu sama aku, lihat sering aku ,eh salah aku sering lihat Amel bepergian lewat depan rumahku. Bahkan kadang dia pergi sama temen cowoknya or pacarnya. Dengan kebiasaan itu membuatku menyimpulkan 75% Amel berubah.
Sore hari, seolah-olah mentari meredupkan cahanya. Aku membantu ibuku menyapu halaman rumah yang di depan rumah banyak temen kakakku berbincana-bincang. Tanpa sengaja aku dengar “bro loe pada tau nggak kalau si Amel tetangga kita itu bermesraan sama cowok dan sampai terekam dan tersebar di Hp-Hp orang sini.” Bincang salah satu teman kakakku. Aku hanya berharap semoga bukan Amel sahabat ku itu.
Makin banyak temen-temen menyampaikan berita itu ke aku, aku semakin kecewa, tak kuat untuk menemui minta penjelasan langsung dari Amel.
Panasnya terik mentari. Setelah pulang sekolah aku langsung kerumah Amel. Dua menit aku tiba disana. Ya kebetulan Amel dirumah. Aku menanyakan semua, apakah berita itu benar. Dengan jawaban yang lama ternyata berita itu benar. “ ya Sya berita itu benar, maafin aku ya…” akunya. ”Aku kecewa Mel sama kamu, sudahlah Mel, seharusnya kamu bukan minta maaf sama aku,tapi kepada Penciptamu.” jawabku dengan rasa kecewa.
Disitu aku sangat sedih dan sangat kecewa dan merasa bersalah. aku nggak bisa menjaga dan membimbing Amel, seperti yang di ingankan ibunya Amel yang sempat mengatakan “Nduk…ibu minta tolong, ibu titip Amel, ajak dia rajin sekolah dan rajin mengaji” kata-kata itu selalu ku ingat
Sekitar satu bulan aku jarang melihatnya. Ya…karena kesibukanku tugas-tugas sekolah. Kata temen-temen Amel ke luar kota. Sudah tiga minggu ini. Sejak saat itu Amel nggak pernah pulang ke desa. Hufh… Mel, Masih ingatkah engkau denganku?.......
http//:fitriyanayani.blogspot.com/